Rabu, 09 Juni 2010

MISS INDONESIA 2010

Setelah melewati tahap karantina dan penjurian yang panjang, akhirnya para juri pemilihan MISS INDONESIA 2010 dalam Malam Pemilihan yang digelar di Ballroom Central Park, Jakarta Barat, Selasa malam lalu, memutuskan Asyifa Syafiningsih Putrimbami Latief keluar sebagai pemenang. Perwakilan dari Propinsi Jawa Barat ini berhak menyandang gelar MISS INDONESIA 2010. Tak hanya itu, Asyifa juga memenangkan kategori Miss Tubuh Indah.

Berdasarkan rilis elektronik yang yang diterima Tempo, Asyifa mampu mencuri perhatian tujuh juri Miss Indonesia 2010 dengan pembawaannya yang tenang dan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan juri dengan lancar. Sebuah pertanyaan pamungkas juri kepada para finalis Miss Indonesia 2010 mampu di jawab Asyifa dengan baik.

Pertanyaan itu, “Apakah arti kata ‘ketahanan’ menurut Anda? Dan dalam situasi apa apakah Anda menggunakan kata tersebut?”. Dan Asyifa pun menjawab, “kegigihan berawal dari keteguhan hati dalam hidup”.

Selain itu, ada beberapa kategori yang dimenangkan oleh para kandidat Miss Indonesia 2010 lainnya. Berikut para Runner Up dan pemenang Miss Kategori:

Tiga Besar Miss Indonesia 2010:
• Runner Up I : Clarashinta Arumdani (D.I Yogyakarta)
• Runner Up II: Kartika Kusumaning Tyas (Jawa Timur)

Miss Kategori:
• Miss Favorite            : Juni Mulia ( Kalimantan Barat) – dipilih berdasarkan polling SMS
• Miss Kulit Cantik     : Pricilla Febrita ( Sulawesi Utara)
• Miss Innovation        : Nathasya Octaviane Morgan (Maluku)
• Miss Persahabatan    : Indria Zulkarnaen (NTT)
• Miss Slim & Health  : Clarashinta Arumdani (D.I Yogyakarta)
• Miss Tubuh Indah    : Asyifa Syafiningsih Putrimbami Latief (Jawa Barat)





Ekspresi

Ekspresi  dapat diartikan sebagai rumus untuk mendapatkan suatu nilai. Ekspresi terdiri dari konstanta dan / atau variabel serta operator. Konstanta serta variabel tersebut dinamakan operand. Jadi, ekspresi adalah barisan simbol operand dan operator yang membentuk ketentuan untuk mengubah nilai konstanta dan / atau variabel. Ketentuan dari aritmatika akan mengatur pemakaian operator terhadap konstanta atau variabel untuk menghasilkan suatu jenis ekspresi tertentu. Suatu ekspresi dievaluasi dari kiri kekanan, kecuali ditentukan lain.

Dibawah ini terdapat beberapa jenis ekspresi adalah sebagai berikut :

1)      Ekspresi Campuran

Jika implementasi suatu bahasa tertentu memperbolehkan adanya ekspresi campuran, maka setiap ekspresi harus terdiri dari variabel integer atau real dan konstanta saja. Ekspresi tersebut dibentuk sesuai dengan ketentuan umum dari aritmatika.

Operator Aritmatika Unar digunakan untuk mencari nilai negatif. Operator Aritmatika Binar terdiri dari penambahan (+), pengurangan (-), perkalian (*), pembagian (/), dan perpangkatan (**), biasanya dapat dikerjakan dengan tanda kurung.

Untuk mengerjakan prioritas hitungan berlaku ketentuan umum dalam Aritmatika. Jika memakai integer untuk ekspresi, maka pembagiannya diberi tanda DIV. proses tersebut mengakibatkan pecahan dari nilai yang dibagi itu terbuang.

2)      Ekspresi Logika

Ekspresi Logika menghasilkan salah satu dari nilai dua nilai yaitu yakni nilai TRUE ataupun FALSE. Operator Logika didalam ekspresi tersebut dimaksudkan untuk menyatakan suatu kondisi guna menentukan pengendalian alur program.

3)      Ekspresi Manipulasi String

Ekspresi Manipulasi String yang beroperasi atas lingkup konstanta dan variabel string. Operator untuk memanipulasi string tersebut diantaranya penyambungan dua string ataupun salah satu substring.

Sumber :

A nonim, Algoritma dan Pemrograman Seri Diktat Kuliah, Penerbit Gunadarma, Depok, 1996.


Himpunan

Suatu himpunan dapat diartikan adalah kumpulan dari sejumlah satuan data yang sejenis. Dan disebut juga secara kolektif dengan sebuah nama saja. Masing-masing satuan data disebut dengan elemen himpunan. Mereka diurutkan berdasarkan nomor indeksnya; oleh karena itu suatu elemen himpunan kadangkala juga disebut dengan subvariabel. Banyaknya indeks dari himpunan disebut juga dengan tingkat atau dimensi himpunan. Suatu elemen dapat diketahui dari nama himpunan tersebut serta subvariabelnya yang ditulis dalam tanda kurung. Himpunan yang pada umumnya dipakai adalah vektor yang merupakan himpunan satu dimensi; matriks, yang merupakan himpunan dua dimensi. Setiap elemen himpunan dari suatu jenis tertentu memiliki dua karakteristik, yakni posisi didalam himpunan nilainya sendiri.

Sumber :

A nonim, Algoritma dan Pemrograman Seri Diktat Kuliah, Penerbit Gunadarma, Depok, 1996.

Definisi Algoritma

Secara pembahasan yang lebih teoritis, kita mengenal  pengertian prosedur, semi-algoritma, dan  algoritma. Namun, secara praktis kita boleh menganggap ketiga pengertian tersebut sebagai satu pengertian yang sama, yakni Prosedur atau Algoritma.

Sebuah Prosedur (yang efektif) didefinisikan sebagai himpunan hingga instruksi, yang bersifat diskrit dan jelas, serta dapat dijalankan secara mekanik. Untuk pemecahan dengan komputer, pengertian dapat dijalankan secara mekanik dapat diartikan sebagai dapat dibuatkan Program Komputernya. Semi-Algoritma adalah Produser yang mampu menghasilkan pemecahan atau solusi masalah, bila solusi memang ada, dan kemudian berhenti. Kemudian Algoritma adalah Semi-Algoritma yang mampu mendeteksi tidak adanya solusi, bila memang solusi tidak ada, dan mampu pula berhenti.

Jadi singkatan Algoritma merupakan suatu himpunan hingga instruksi yang secara jelas memperinci langkah-langkah proses pelaksanaan, dalam pemecahan suatu masalah tertentu, atau suatu kelas masalah tertentu, dengan dituntut pula bahwa himpunan instruksi tersebut dapat dilaksanakan secara mekanik.

Algoritma boleh dibilang merupakan suatu “resep” untuk memecahkan masalah. Sebuah Algoritma dapat disiapkan pada berbagai tingkat permasalahan. Perangkat mesin komputer hanya dapat menjalankan suatu instruksi, jika instruksi telah dibuat dalam suatu bahasa yang dimengerti oleh komputer tersebut.

Sumber :

Anonim, Algoritma dan Pemrograman Seri Diktat Kuliah, Penerbit Gunadarma, Depok, 1996.

Sejarah Riset Operasional

Dorongan awal munculnya kegiatan-kegiatan riset operasional adalah Perang Dunia II. Sebenarnya, istilah riset operasional ini tercetus sebagai akibat dari “riset pada operasi militer” yang dilakukan selama perang tersebut. Kelompok ahli-ahli matematika , ekonomi, dan ahli-ahli disiplin ilmu lain-lainnya disatukan untuk menganalisis berbagai masalah operasi militer. Kelompok-kelompok ini dibentuk di Inggris dan Amerika Serikat, dimana Angkatan Laut AS (US NAVY) mempekerjakan lebih dari 70 orang analis. Berbagai bentuk masalah dapat dipecahkan dengan baik, seperti dimana harus ditempatkan instalasi radar, bagaimana menemukan lokasi kapal selam lawan, bagaimana menempatkan bom-bom yang dipicu dengan gelombang radio jarak jauh di laut sekeliling jepang.

Walaupun istilah riset operasional ini baru ditemukan setelah Perang Dunia II, tetapi sebenarnya pendekatan-pendekatan ilmiah yang digunakan sebagian telah diciptakan sebelumnya, yaitu sebagai hasil kerja Taylor dan Gantt.

Penerapan riset operasional dalam Perang Dunia II ditandai oleh suatu pendekatan kelompok terhadap masalah-masalah operasional, yang diawali di Inggris. Sebagai contoh, Profesor P.M.S. Blackett yang ditugaskan untuk menganalisis masalah koordinasi radar di daerah perang. Kelompok yang dibentuk oleh Blackett ini terdiri dari ahli psikologi, fisika, matematika, perwira AD dan ahli survai. Pendekatan ahli kelompok gabungan ini kemudian juga diikuti oleh Amerika Serikat.

Kesuksesan riset operasional selama Perang Dunia II tersebut menarik industri-industri  pasca perang di Inggris dan Amerika Serikat untuk menerapkannya dalam pemecahan masalah-masalah manajerial dan operasional yang dialaminya. Salah satu perkembangan riset operasional pasca perang yang cukup terkenal adalah temuan salah satu metode riset operasional oleh George Dantzig. Beliau sangat terkenal akan temuannya yang berupa pengembangan pemrograman linier yang merupakan metode riset operasional yang sangat luas digunakan. Dantzig ini sering disebut sebagai “Bapak Pemrograman Linier”. Disamping pemrograman linier, perkembangan awal riset operasional lainnya adalah dibidang statistika pengendalian mutu, pemrograman dinamis, analisis queue, dan pengendalian persediaan.

Perkembangan riset operasional saat ini mencakup penyempurnaan terhadap metode-metode yang telah ada dan juga penemuan teknik-teknik analisis baru seperti pemrograman geometris, simulasi dan goal programming. Tetapi bagaimanapun juga, perkembangan metodologi riset operasional ini tergantung pada ilmu komputer dan perkembangan komputer. Sebagian besar masalah yang dipecahkan dengan teknik riset operasional biasanya berskala besar dan memerlukan perhitungan-perhitungan penting berulang-ulang untuk menganalisisnya. Hal ini akan sangat melelahkan bila diselesaikan secara manual, sehingga ketergantungan perkembangan riset operasional terhadap perkembangan komputer tidak dapat disepelekan.

Sumber :

Media Anugerah Ayu, Pengantar Riset Operasional Seri Diktat Kuliah, Universitas Gunadarma, Jakarta, 1996.




Pengertian Riset Operasional

Riset Operasional dapat digambarkan sebagai suatu pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan yang melibatkan operasi-operasi dalam sistem organisasi. Penggambaran tersebut masih bersifat umum, sehingga untuk lebih memahami segi unik dari riset operasional mungkin lebih baik bila dilihat dari sifat-sifat khas atau istimewa.

Berdasarkan namanya , riset operasional melibatkan ”riset pada operasi”. Jadi riset operasional dapat diterapkan pada masalah-masalah tentang bagaimana memperlakukan dan mengkoordinasikan operasi-operasi atau kegiatan-kegiatan dalam suatu organisasi. Yang dimaksud dengan organisasi disini sangatlah luas, misalkan organisasi di dalam bidang bisnis, industri, militer, agen pemerintah, jasa dan lain-lain.

Pendekatan yang digunakan pada riset operasional adalah pendekatan dengan metode ilmiah. Pendekatan ini biasanya dimulai dengan dilakukannya observasi dan formulasi masalah, kemudian dilanjutkan dengan membuat permodelan (biasanya berbentuk model matematis) yang menyatakan esensi dari keadaan yang sebenarnya yang akan dianalisis. Selanjutnya dicari solusi optimal berdasarkan model yang dibuat dan dilakukan penerapan solusi yang diperoleh untuk memecahkan masalah.

Sumber :

Media Anugerah Ayu, Pengantar Riset Operasional Seri Diktat Kuliah, Universitas Gunadarma, Jakarta, 1996.

Metode Grafik

Tujuan dari metode grafik adalah untuk memberiakan dasar-dasar dari konsep yang digunakan dalam teknik simpleks. Prosedur pada umumya adalah untuk mengubah suatu situasi deskriptif kedalam bentuk suatu masalah pemrograman linier dengan menentukan variabel-variabelnya serta konstanta-konstantanya, hingga fungsi obyektifnya dan batas-batasannya (kendala-kendala), sehingga masalah tersebut dapat disajikan dalam bentuk grafik dan interpretasikan solusinya. Untuk menggunakan metode grafik ini dilalui beberapa tahapan-tahapan yaitu :

1)      Indentifikasi variabel keputusan

2)      Indentifikasi fungsi obyektif

3)      Indentifikasi kendala-kendala

4)      Menggambarkan bentuk grafik dari semua solusi

5)      Indentifikasi daerah solusi yang layak pada grafik

6)      Menggambarkan bentuk grafik dari fungsi obyektif dan menentukan titik yang mnberikan nilai obyektif optimal pada daerah solusi yang layak

7)      Mengartikan solusi yang diperoleh
Sumber:
[1] Media Anugerah Ayu, Pengantar Riset Operasional Seri Diktat Kuliah, Universitas Gunadarma, Jakarta, 1996.